Home Top Ad

Responsive Ads Here

Karena begitulah iman. Kadang kau tak mengerti manifestasinya. Ketika kau baca firman-Nya, tiba-tiba kau terdiam. Tak kuasa kau melanjutkan ...

Karena Begitulah Iman


Karena begitulah iman. Kadang kau tak mengerti manifestasinya. Ketika kau baca firman-Nya, tiba-tiba kau terdiam. Tak kuasa kau melanjutkan bersebab air yang menggenang di pelupuk mata. Mungkin itu terjadi karena kau maknai isinya. Tapi lebih sering lagi kau tak paham kandungannya. Air mata itu jatuh begitu saja. Mengalir membasahi pipi.

Karena begitulah iman. Di lain waktu, kau bahkan tidak membaca. Hanya mendengar lantunan murottal dari para masyaikhTimur Tengah. Tidak jarang pula para penghafal dalam negeri yang kau simak. Dan kau juga menangis. Dadamu bergemuruh. Pundakmu berguncang. Andai Al-Qur’an itu berwujud makhluk, sudah erat pelukmu padanya sebagai ekspresi cinta.

Karena begitulah iman. Luapan manisnya kadang tak masuk pikiran. Bahkan senandung adzan bisa membuatmu sesenggukan. Melalui bait-baitnya kau sadar betapa Agungnya Rabb-mu. Betapa indahnya agamamu. Seruan itu tidak hanya membuatmu selalu sadar akan waktu, tapi juga menjagamu dari ketertenggalaman rutinitas duniawi. Mengistirahatkanmu dengan aktivitas ukhrawi. Sehingga tak kau lewati hari kecuali dengan kebaikan.
sumber : www.flickr.com
Karena begitulah iman. Perwujudannya suka datang tak terduga. Saat kau bersedekap, menghadapkan wajahmu pada-Nya, tiba-tiba saja kau menangis. Kau rasakan betapa manisnya ibadah ini. Belum lagi ketika kau pertemukan keningmu dengan bumi seraya berbisik kepada-Nya. Subhana robbiyal a’la wabihamdih. Kau tergugu. Menangis tersedu. Kau akui betapa rendah dan hinanya dirimu di hadapan-Nya.

Karena begitulah iman. Ada saat dimana kau tak suka dengan hiruk pikuk. Suatu masa dimana kau hindari keramaian. Kau lebih memilih menyendiri, berkhalwat dengan Rabb-mu. Menghabiskan beberapa waktu bersama-Nya. Entah dengan tafakur, munajat, tilawah, dzikir, atau sekedar ingin berduaan dengan-Nya. Dan itu membuatmu tenang.

Karena begitulah iman. Dengan rasanya yang manis itu, kau menjadi pecandu. Begitu takut dirimu akan kehilangannya. Begitu khawatir dirimu ditinggalkannya. Maka lekas-lekas kau pinta, supaya ianya tetap terhimpun dalam dada. Ratapmu dalam doa, Rabbana laa tuzig qulubana… Dan kau ulang larik doa itu berkala.

Karena begitulah iman. Takkan bisa dipahami oleh mereka yang kufur. Mustahil dimengerti oleh mereka yang ingkar. Karena ianya memang tidak untuk dilogika. Ini perkara rasa. Ikatan batin yang terajut antara dirimu dengan Rabb semesta.

Walau tak terjangkau oleh indera, tapi begitu dahsyat mengguncang hati. Karena begitulah iman.

#Asrama Mahasiswa KSU

0 comentários: