Home Top Ad

Responsive Ads Here

Sudah sejak lama saya ingin travelling ke Mesir. Menapak tilasi perjuangan para anbiya langsung dari sumbernya. Menziarahi situs-situs bers...

Solo Travelling to Egypt (Day #1 : Persiapan dan Keberangkatan)


Sudah sejak lama saya ingin travellingke Mesir. Menapak tilasi perjuangan para anbiya langsung dari sumbernya. Menziarahi situs-situs bersejarah peninggalan kekhalifahan. Mengunjungi salah satu universitas tertua di dunia, Al-Azhar. Serta menyaksikan langsung pesona piramida, yang ilmuwan bilang sebagai keajaiban dunia. Dan alhamdulillah, kesempatan itu akhirnya datang juga. Saya baru saja melaksanakan rihlah ke negeri 1001 menara itu.

Saya mempersiapkan perjalanan ini sudah jauh-jauh hari. Sengaja saya pilih musim dingin untuk rihlah ke Mesir karena menurut saya sedingin apapun winter di Timur Tengah, masih jauh lebih baik daripada harus berjemur di bawah teriknya summer di sana. Maka harga tiket pesawat sudah saya pantau pergerakannya sejak dua bulan sebelum keberangkatan. Dan dari pantauan itu, harga tiket terendah tidak kurang dari 850 SAR (sekitar Rp 3 juta) dengan maskapai Flynas. Tiga pekan sebelum hari H, saya putuskan pergi ke agen travel untuk beli tiket itu, tapi sayang begitu sampai di sana pegawainya bilang sistem Flynas sedang down. Jadi mau tidak mau saya beli tiket maskapai lain dan tiket termurah kedua setelah Flynas saat itu adalah Saudia dengan harga 1100 SAR pp untuk tanggal 23-31 Januari 2017.

Tiket sudah dibeli. Selanjutnya adalah mengurus visa.

Saya sering mendengar dan membaca blog bahwa pengajuan visa travel ke Mesir agak sulit, tapi pengalaman saya kemarin justru kebalikannya. Sangat mudah! Saya hanya mengisi formulir, menyerahkan foto dengan background putih (3 lembar), fotocopy paspor dan iqomah, copy visa re-entry  yang diterbitkan oleh kampus, serta membayar biaya visa 150 SAR. Dalam tiga hari, visa saya sudah kelar dan bisa diambil. Dugaan saya, mungkin negara tempat apply jadi salah satu faktor cepat lambatnya pengajuan visa. Blog yang saya baca kebetulan hampir semuanya dari Indonesia.

Setelah tiket dan visa selesai, langkah selanjutnya adalah mencari kawan yang bersedia menampung selama saya di Mesir, hehe. Maklum lah, masih mahasiswa, anggaran terbatas. Untungnya saya punya kenalan mahasiswa Al-Azhar dan untungnya lagi, beliau bersedia membantu saya selama di Mesir.

Tiket sudah. Visa beres. Akomodasi oke. Tinggal berangkat aja.

Setelah berjibaku dengan ujian dan beberapa hari safar ke Mekkah karena ada saudara yang sedang umroh, tibalah hari H. Pesawat saya berangkat pagi sekali. Jam 07.30 sudah take off. Maka saya sudah harus berangkat ke bandara sebelum adzan subuh berkumandang. Untunglah ada taksi yang bersedia menjemput saya di kampus karena jam segitu sangat sulit menemukan taksi di luar. Yah, walaupun harganya lebih mahal, tidak mengapa, yang penting saya bisa berangkat.

Tiba di bandara sekitar pukul 6. Setelah sholat Subuh (waktu sholat Subuh saat itu sekitar jam 05.20), saya langsung menuju ke lokasi check-in untuk loading bagasi. Saya sendiri sudah check-in online malam sebelumnya. Untunglah semua aman, termasuk air zam-zam untuk oleh-oleh teman saya. Semula saya khawatir zam-zam itu tidak bisa terbawa karena petugas packing bilang dia tidak bisa packingzam-zam saya karena maskapai Saudia tidak mengizinkan membawa zam-zam diluar koper. Akhirnya saya paksa 5 liter air zam-zam itu untuk masuk ke dalam koper. Untungnya masih muat, hehe.

Masalah klasik timbul di bagian imigrasi. Lagi-lagi sidik jari saya bermasalah. Tidak terbaca! Saya harus mengulang berkali-kali agar bisa lolos scan sidik jari itu. Saya juga tidak mengerti mengapa hal ini berulang kali terjadi. Bahkan ketika pulang dari Mesir pun saya kembali mendapatkan masalah yang sama. Sangat melelahkan.

Perjalanan ke Mesir tidak terlalu lama. Jarak 2058 kilometer itu (based on google maps) dapat ditempuh hanya dalam waktu 3 jam. Walaupun cuma 3 jam, tapi Mesir dan Saudi sudah berbeda benua lho. Mesir di Afrika, Saudi di Asia. Jadi secara resmi saya telah menginjakkan kaki saya di Benua Afrika, hehe. Saya tiba di Cairo International Airport kurang lebih pukul 09.30 waktu setempat (Riyadh dengan Cairo selisih satu jam). Untungnya wifi bandara saat itu bisa langsung dipakai, jadi saya bisa langsung mengabari kawan saya.

Tiba di imigrasi, lagi-lagi masalah muncul. Sederhana sih, yaitu petugas kepo dengan status saya sebagai mahasiswa Saudi. Saya diminta menunggu sampai semua penumpang telah selesai untuk ditanya beberapa hal. Setelah penumpang habis, saya kembali dipanggil. Petugas imigrasi menanyai kartu residence permit saya. Setelah saya jelaskan bahwa saya tidak bisa membawa kartu itu keluar kampus dan kemudian menunjukkan re-entry visa saya, akhirnya beliau memperkenankan saya masuk. Yeee….

Setelah klaim bagasi, saya telepon lagi teman saya untuk mengetahui posisi beliau. Ternyata beliau belum sampai di bandara. Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya dia tiba juga bersama satu temannya yang lain.

Awalnya saya mengajak mereka untuk langsung naik taksi dari terminal tempat saya landing, tapi mereka bilang taksi disitu mahal. Akhirnya kami keluar dulu dengan menggunakan fasilitas bus bandara dan mencegat taksi di luar. Ternyata memang benar, harganya sangat jauh berbeda. Di luar bandara kami hanya dimintai tarif 40 EGP (setara Rp 28 ribu, kurs 1 EGP = Rp 700), sedangkan di dalam lebih dari empat kali lipatnya. Tapi by the way, tarif yang empat kali lipat itu pun sebenarnya masih lebih murah jika dibandingkan dengan tarif di Riyadh, dengan jarak tempuh yang hampir sama.

Dan pengalaman naik taksi murah itu adalah pembuka dari serentetan pengalaman mendapatkan harga-harga yang serba murah di Kairo.

#Asrama Mahasiswa KSU

0 comentários: