Home Top Ad

Responsive Ads Here

Telah saya ceritakan bahwa pada hari ketujuh saya melakukan pendakian ke puncak Sinai. Ekspedisi hari itu sebenarnya belum berakhir meski ka...

Solo Travelling to Egypt (Day #8 : Lubang Biru di Laut Merah)


Telah saya ceritakan bahwa pada hari ketujuh saya melakukan pendakian ke puncak Sinai. Ekspedisi hari itu sebenarnya belum berakhir meski kami telah sampai di bawah. Setelah turun, kami langsung berangkat lagi ke arah timur menuju Dahab yang jaraknya sekitar 136 km dari Saint Catherine. Dahab adalah wilayah pesisir Teluk Aqabah yang berada di Laut Merah. Jika kita menyebrangi teluk ini, maka kita akan sampai di Arab Saudi.

Perjalanan menuju Dahab dari Saint Catherine cukup lama. Sejak berangkat pukul sebelas siang, kami baru tiba di hotel Dahab sekitar dua jam setelahnya. Setelah check in dan mengurus pembagian kamar, sore hari itu sebenarnya ada agenda wisata naik motor ATV di sekitaran pantai. Akan tetapi karena saya tidak terlalu minat, juga karena cukup lelah, maka saya putuskan untuk menghabiskan sore dengan beristirahat di kamar.

Ketika waktu beranjak malam, teman-teman sekamar mengajak saya berkeliling di sekitaran pantai. Karena sudah cukup puas istirahat, maka saya sambut ajakan dua kawan Malaysia itu. Lagi pula cuaca saat itu cukup bersahabat, sangat enak untuk dipakai jalan-jalan. Di sekitar pantai ada banyak sekali toko dan restoran. Kebanyakan toko tersebut menjual souvenir, pakaian dan perlengkapan renang. Saya sendiri membeli peta. Lah?Entah mengapa jika berkunjung ke suatu kota, saya selalu tertarik dengan petanya.

Setelah puas berkeliling, kami kembali ke hotel. Di hotel ternyata teman-teman panitia sudah menyiapkan barbeque. Masya Allah, nikmat mana lagi yang kamu dustakan? Saat itu, satu nampan besar barbeque dan nasi dijatah untuk enam orang. Meski kami makan di satu nampan secara bersamaan, tapi kami tetap senang. Bahkan justru disitulah nikmatnya karena kami bisa merasakan kebersamaan. Satu hal yang sangat saya kagumi dari teman-teman Malaysia adalah, mereka selalu berdoa bersama sebelum makan. Selama tiga hari dua malam safar bersama mereka, tidak pernah sekalipun saya lihat ada orang yang makan tanpa doa bersama. Selalu saja ada satu orang yang memimpin doa sebelum makan. Kebiasaan seperti ini sangat jarang saya temui di Indonesia.

Selesai makan, panitia memberi kebebasan kepada peserta untuk beraktivitas. Karena saya dan teman-teman sekamar sudah keliling pantai, maka kami langsung kembali ke kamar untuk istirahat. Besok pagi kami akan snorkeling di Blue Hole Red Sea.

Wisata snorkeling ini sebenarnya bersifat pilihan, peserta boleh mengikuti atau tidak mengikutinya. Sama seperti wisata naik ATV kemarin sore. Kalau mau ikut snorkeling, peserta dikenakan biaya tambahan 60 EGP. Saya sendiri sebenarnya agak enggan mengikuti kegiatan ini karena saya memiliki masalah yang sangat serius dengan dunia perairan: saya tidak bisa berenang! Perlu diketahui, renang adalah salah satu dari dua olahraga yang tidak saya sukai. Olahraga lainnya adalah basket. Tapi dua kawan Malaysia saya membujuk dan mempersuasi saya dengan mengatakan bahwa snorkeling tidak membutuhkan keahlian renang. Karena bujuk rayu mereka, serta kenyataan bahwa saya belum pernah merasakan snorkeling sebelumnya, maka akhirnya rontok juga pertahanan saya untuk tidak ikut.
Sejak pagi sekali kami sudah berangkat menuju Blue Hole. Jarak dari hotel ke Blue Hole ternyata lumayan jauh. Memakan waktu sekitar 20 menit naik mobil. Sepanjang perjalanan itu kami menyusuri tepi Laut Merah yang tenang tanpa ombak. Penyusuran itu membuat saya teringat dengan kisah Nabi Musa saat beliau membelah lautan dengan tongkatnya. Tapi entah di bagian Laut Merah yang mana beliau memukulkan tongkatnya.

Tepi Laut Merah (sumber : dokumentasi pribadi)
Sampai di lokasi, kami disambut oleh seorang instruktur. Beliau menjelaskan kepada kami tentang wilayah Blue Hole yang akan kami jadikan tempat snorkeling. Jadi Blue Hole itu adalah satu titik di tepi pantai yang memiliki kedalaman berbeda dengan sekelilingnya. Mirip seperti palung tapi tidak sedalam palung. Di titik itu, warna air laut menjadi biru pekat. Berbeda dengan warna di sekelilingnya. Di titik itu pula banyak terumbu karang dan aneka ikan laut yang indah.

Blue Hole tampak dari atas (sumber : Google)
Saat itu beruntung tidak ada wisatawan lain selain kami yang snorkeling. Jadi kami lebih leluasa menjelajah wilayah Blue Hole. Yah, wajar sih, karena saat itu masih sangat pagi dan bertepatan dengan musim dingin. Mungkin bagi sebagian orang snorkeling di pagi hari musim dingin terdengar konyol. Jangankan snorkeling, wisata ke pantai di musim dingin saja rasanya sudah tidak lazim. Tapi mau bagaimana lagi, memang itulah waktu yang kami punya. Kami tidak bisa menunggu sampai siang karena karena siang nanti kami harus pulang.

Karakteristik Blue Hole (sumber : Google)
Setelah salin pakaian dan sedikit pemanasan, kami langsung masuk ke wilayah Blue Hole. Meski suhu tidak terlalu dingin, tapi air laut saat itu cukup dingin. Walau begitu, saya kira rasa dingin itu terbayar lunas dengan apa yang kami lihat di dalam Blue Hole. Pesona terumbu karang dan ikan laut yang sangat indah! Belum pernah saya melihat pemandangan yang seperti ini sebelumnya. Ya iyalah, orang gue belum pernah snorkeling!

Bagi mereka yang pandai berenang, kegiatan snorkeling itu menjadi sangat mengasyikan. Saya melihat banyak diantara kawan-kawan Malaysia yang berenang ke daerah yang lebih dalam untuk melihat keindahan biota laut. Saya juga sebenarnya sempat dibersamai oleh seorang kawan untuk melihat biota laut di tempat yang paling dalam, tapi hanya sebentar. Walau cuma sebentar, tapi cukup puas karena bisa menyaksikan rupa-rupa biota laut yang belum pernah saya lihat dengan mata kepala saya langsung.

Selain mendapatkan kepuasan melihat biota laut, melalui kegiatan snorkeling ini pula saya mendapati kenyataan yang sangat pahit. Bahkan lebih pahit dari jamu cap kupu-kupu yang sering ibu saya berikan kalau saya meriang ketika masih kecil. Di Blue Hole itu saya mengetahui bahwa saya mengidap penyakit tidak bisa berenang level kronis. Bagaimana tidak, walau saat itu saya sudah memakai perlengkapan snorkelinglengkap, yaitu jaket pelampung dan alat bernafas, tapi saya hampir tenggelam.

Jadi saat itu ketika saya sedang asyik berenang, ternyata secara tidak sadar saya sudah sampai di bagian yang paling dalam. Sehingga ketika kaki saya mau menapak ke bawah untuk beristirahat, ternyata sudah tidak ada batu karang lagi yang bisa dijadikan pijakan. Alhasil saya panik dan banyak air laut yang tertelan. Hampir saja saya tidak bisa bernafas dan tenggelam. Untung saya masih bisa berenang sedikit ke tempat yang ada pijakannya.

Setelah kejadian itu, buru-buru saya menepi untuk menyudahi kegiatan snorkeling. Sungguh saya tidak mau bernasib sama seperti Fir’aun yang ditenggelamkan di Laut Merah.

#Asrama Mahasiswa KSU

0 comentários: