Home Top Ad

Responsive Ads Here

Ekspedisi Sinai merupakan hari-hari terakhir saya di Mesir. Setelah dari Sinai, saya tidak sempat kemana-mana lagi karena waktu yang sudah s...

Solo Travelling to Egypt (Day #9 : Kepulangan)


Ekspedisi Sinai merupakan hari-hari terakhir saya di Mesir. Setelah dari Sinai, saya tidak sempat kemana-mana lagi karena waktu yang sudah sangat mepet dengan kepulangan ke Riyadh. Sebetulnya selesai snorkeling di Dahab pada hari kedelapan, kami masih ada satu tujuan lagi, yaitu ke Sharm Al-Shaikh. Tapi karena waktu yang tidak memungkinkan, akhirnya kami langsung pulang ke Kairo. Lagipula Sharm Al-Shaikh memiliki objek wisata yang sama dengan Dahab, yaitu pantai. Jadi tidak terlalu membuat kami penasaran.

Kami tiba di Asrama Mahasiswa Selangor, kawasan Hay Asyir, pukul 21.00. Ketika tiba di sana sebenarnya Zaki mau menjemput saya, tapi berhubung saat itu ada dua teman Malaysia yang tujuan pulangnya searah dengan saya, serta karena tidak mau merepotkan Zaki, akhirnya saya ikut dua kawan Malaysia itu. Sebelum pulang, kami sempatkan mampir di warung Thailand untuk makan malam. Waktu itu saya pesan nasi goreng. Sudah lama sekali saya tidak makan menu ini.

Satu hal dari Kairo yang sangat membuat saya iri adalah, di sana ada banyak sekali restoran Asia Tenggara. Bahkan banyak juga restoran Indonesia. Sehingga jika suatu waktu kita rindu dengan cita rasa Indonesia, kita dapat dengan mudah mengobati rindu itu. Apalagi harga menunya juga murah, setidaknya jika dibandingkan dengan harga di Riyadh. Sudah banyak, murah pula! Aaakkk….!!!

Lepas makan, kami langsung pesan Uber. Sengaja kami pesan taksi Uber karena kami tidak mau repot turun naik bis. Apalagi saya juga tidak terlalu hafal jalur bis, sedangkan dua kawan Malaysia saya berhenti di tempat yang berbeda. Daripada nanti kesasar, padahal besok mau pulang ke Riyadh, lebih baik cari yang praktis saja.

Malam itu jalanan masih sangat ramai, padahal sudah cukup larut. Kami terjebak macet di beberapa titik. Saya baru tiba di kontrakan Zaki pukul 24.00.  Setelah berbasa-basi sedikit dengan Zaki dan temannya, saya langsung tidur.

Pesawat saya take-offpukul 11.00 siang. Pagi hari itu, setelah packing dan pamitan ke teman-temannya Zaki, saya langsung berangkat menuju bandara, diantar oleh Zaki. Zaki katanya mau mengkonfirmasi ke pihak imigrasi dan maskapai tentang paspornya yang tercuci. Paspornya tidak sengaja tercuci beberapa hari yang lalu, padahal beberapa hari lagi dia akan mudik ke Indonesia. Dia khawatir tidak bisa lolos bagian imigrasi karena fotonya di paspor rusak (tidak jelas). Duh, kasihan sekali mendengarnya.

Saat itu kami berangkat dari kontrakan menuju bandara pukul 09.00. Saya kira dengan menyisihkan waktu dua jam sebelum take-off sudah cukup pas, tapi ternyata saya hampir saja telat. Kami (lagi-lagi) terjebak macet di beberapa titik. Untung supirnya bisa mencari jalan-jalan alternatif sehingga saya dapat tiba tepat waktu.

Saya sebenarnya ingin singgah sebentar di depan terminal 3 untuk melihat dan mengambil gambar hanging stones, yaitu dua buah batu yang jika dilihat dari gambar sangat ajaib. Dua batu itu diikat dengan tali dengan posisi satu batu berada di atas, dan batu lain berada di bawah, sehingga seolah-olah batu-batu itu melayang. Tapi karena waktu yang sangat mepet, saya hanya bisa melihatnya dari dalam taksi.

Hanging stones in Cairo Int'l Airport (sumber : Google)
Ketika baru mau menyetorkan bagasi, panggilan boarding dari announcer bandara untuk para penumpang tujuan Riyadh telah dikumandangkan. Sebenarnya saat itu saya cukup khawatir ketinggalan, tapi karena ternyata ada banyak penumpang di belakang saya yang punya tujuan sama, saya menjadi lebih tenang. Setelah semua urusan check-indan imigrasi beres, saya langsung masuk ke pesawat. Saat itu sudah pukul 10.50. Artinya, 10 menit lagi pesawat mestinya take-off. Tapi karena ada banyak penumpang yang telat, pesawat akhirnya baru bisa take-off jam 11.15.

Alhamdulillah kami semua tiba dengan selamat di King Khalid International Airport, Riyadh. Dari bandara, saat itu saya memesan taksi Careem, yaitu sebuah aplikasi taksi mirip Uber buatan Qatar. Kami, para mahasiswa sering menggunakan taksi ini karena mereka bisa masuk menjemput dan mengantar kami sampai ke dalam asrama. Saya tiba di asrama kampus kurang lebih pukul empat sore. Alhamdulillah semua urusan saya dengan Mesir, mulai dari pra hingga pasca rihlah, diberi kelancaran, tidak ada masalah yang berarti.

#Asrama Mahasiswa KSU




0 comentários: