Home Top Ad

Responsive Ads Here

Kalau Jogja adalah Rajanya kota di hati saya, maka boleh lah Bandung saya angkat sebagai Ratunya. Kota ini tak henti-hentinya membuat saya t...

(Lagi-lagi) Bandung


Kalau Jogja adalah Rajanya kota di hati saya, maka boleh lah Bandung saya angkat sebagai Ratunya. Kota ini tak henti-hentinya membuat saya terkejut atas progres positifnya. Selain tata kota yang indah, ruang terbuka hijau yang masih luas, dan terakhir saya dibuat geleng-geleng kepala melihat aktivitas dakwah yang maju pesat.

Ramadhan kemarin, sepertiga terakhirnya sengaja saya habiskan di Kota Kembang itu. Saya sedang sangat butuh keterasingan dan ketenangan. Dua hal yang sangat sulit saya dapat kalau saya memaksakan tetap berada di Tangsel. Nah, mengambil momen i’tikaf Ramadhan, saya kunjungi Bandung untuk ber-tahanuts (wkwk, gayane).

Saya berangkat dari Jakarta bareng Mas Firman, teman saya orang Bandung yang qodarullah saat itu baru selesai mengisi seminar di Depok. Untungnya punya teman orang Bandung adalah, selain dapat tebengan gratis (hehe), saya jadi punya info up to date tentang hal-hal yang sedang hits di sana. Dan hits pertama yang saya dengar dari Mas Firman adalah tentang fenomena Masjid Al-Lathif, markasnya gerakan Pemuda Hijrah, yang dikomandoi ustadz muda, Ustadz Hanan Attaki.  

Hmm…tapi tujuan utama saya ke Bandung sebenarnya bukan ke sana. Selain nama masjidnya masih asing di telinga, saya juga punya agenda sendiri. Saya ingin mengunjungi masjid-masjid yang memang sudah memberi kesan bagi saya dan masjid pertama yang saya kunjungi (sekaligus saya jadikan basecamp, hehe) adalah Masjid Salman ITB.

Masjid Salman, karena merupakan masjid kampus, memiliki ruh yang berbeda dengan masjid-masjid lain. Pertama kali saya datang ke sini, saya terkesan dengan ciri khas ketenangannya. Entah bagaimana saya harus mendeskripsikannya, tapi yang pasti saya suka dengan ruh masjidnya (hah?). Masalahnya (bagi saya), ketika saya datang kemarin, ternyata jamaah i’tikaf di Salman sangat banyak, padahal itu baru malam ke-21 dan aktivitas kuliah juga sudah diliburkan. Artinya, pikir saya mahasiswa yang i’tikaf di situ pastilah mahasiswa lokal, bukan dari luar kota. Kalau baru malam ke-21 saja sudah sebanyak ini, gimana malam setelahnya nih?
Suasana I'tikaf di Masjid Salman (sumber : dok. pribadi)

Tahun-tahun lalu (kecuali tahun 2016 karena saya tidak i’tikaf di sana), jamaah i’tikaf di Salman setau saya tidak sebanyak ini. Menurut saya ini lonjakan yang besar. Hal ini membuat saya berpikir ulang untuk menghabiskan banyak waktu di Salman. Kalau terlalu ramai begini, rasanya misi saya untuk mengasingkan dan menenangkan diri akan sulit tercapai, hehe. Oleh karena itu, sambil safari masjid, saya juga menyeleksi tempat i’tikaf lain sebagai alternatif Salman. Dari pencarian itu, saya memutuskan untuk i’tikaf di dua tempat selain Salman, yaitu Masjid Daarut Tauhid (DT) dan Masjid PUSDAI.

Tidak sesuai dugaan saya, ternyata Masjid DT tidak ramai-ramai amat. Ramai sih, tapi melihat popularitas DT yang sangat masyhur, jumlah jamaah saat itu rasanya masih belum ada apa-apanya. Jadi cukup kondusif lah bagi saya untuk i’tikaf. Mungkin A Factor (Aa Gym Factor, wkwk) menjadi salah satu penyebab kurang ramainya jamaah, karena saat itu Aa Gym sedang umroh. 

Satu hal yang membuat saya heran sekaligus tercengang adalah biaya i’tikaf yang menurun drastis dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu ketika saya tanya salah satu pegawai DT melalui WhatsApp, beliau bilang biaya i’tikaf sebesar 1 juta selama 10 hari. Hal itu membuat motivasi saya anjlok untuk pergi ke DT, wkwk. Tahun ini biayanya menurun drastis, hanya 100 ribu untuk 10 hari dengan fasilitas yang hampir sama (termasuk dapat ifthar dan makan sahur). Tapi mengingat rencana awal saya tidak i’tikaf di sini, maka saya tidak mendaftar secara resmi. Hanya sekedar ikut i’tikaf saja. Untuk ifthar dan sahur saya cari sendiri di luar. 

Tambahan info lain dari DT, masjid ini sedang memulai pembangunan lantai tiga (Masya Allah). Insya Allah daya tampung jamaah juga akan lebih banyak. Ke depan, kalau biayanya masih segitu, mungkin bisa jadi opsi utama untuk i’tikaf nih, hehe. Info lainnya, sepengamatan saya kemarin kelihatannya makin banyak akhwat menggunakan cadar (#eh). Lucunya (gak lucu juga sih), banyak diantara mereka yang memakai cadar dengan setelan akhwat lokal Indonesia. Maksudnya, cadar mereka dikombinasikan dengan rok, baju, serta hijab ala akhwat Indonesia, bukan setelan gamis seperti akhwat Saudi (dengan abaya hitamnya). Malah ngomongin cadar gini sih…

Okay, selanjutnya adalah Masjid PUSDAI. Awalnya juga saya gak niat i’tikaf di sini, tapi begitu melihat kondisinya yang kondusif, akhirnya saya memutuskan i’tikaf di sini juga. Tekad saya semakin bulat untuk menghabiskan beberapa malam di sini begitu mendengar bacaan imam tarawihnya yang sangat mengena di hati saya. Tapi sayangnya beliau menjadi imam di satu malam itu saja (hadeh). 

Satu catatan dari Masjid PUSDAI adalah, di sana tidak ada tempat penitipan tas. Jadi tas harus dijaga sendiri. Bagi saya yang i’tikaf seorang diri, rasanya was-was kalau meninggalkan tas saya begitu saya ada keperluan, misalnya ke WC, karena masjid itu berada di tempat terbuka. Maksudnya bukan seperti Masjid Salman yang ada di dalam area kampus yang cenderung tertutup. Sudah tertutup, plus ada fasilitas penitipan tas dan laundry segala pula, makanya saya jadikan Salman basecamp.

Dan masjid terakhir yang ingin saya bahas adalah Masjid Al-Lathif, yang juga menjadi fenomena terkini di Bandung. Masjid ini sebenarnya masjid kecil di tengah komplek. Ukurannya jauh lebih kecil dari Masjid Nurul Ashri Deresan – Jogja, tapi saya kira ruhnya hampir serupa. Ke depan bisa jadi masjid ini akan mengalami perluasan seperti Masjid Nurul Ashri.

Saya datang ke masjid ini di waktu sholat Isya dan tarawih bersama Mas Firman, dan itupun atas rekomendasi beliau. Sebelumnya kami makan malam di sekitar situ. Bahkan sejujurnya tujuan kami ke daerah itu awalnya adalah untuk makan malam. Nah pas makan itu Mas Firman bilang, “Ini kita sudah dekat sama Masjdi Al-Lathif nih, kamu mau sholat tarawih di sini? Kebetulan katanya sekarang imamnya Muzammil.” Karena penasaran, akhirnya saya iyakan ajakan beliau.

Begitu sampai di sana, saya langsung kaget melihat penuhnya parkiran. Kami sangat sulit mendapatkan tempat untuk parkir motor. Saking penuhnya, kami sampai harus keliling komplek untuk mendapatkan slot parkir. Itupun akhirnya kami parkir di dalam garasi orang, setelah si pemilik rumah membukanya untuk dijadikan lahan parkir dadakan. Tidak lama setelah kami dapatkan slot parkir, saya lihat jalan utama menuju masjid sudah diportal. Terlambat sedikit saja kami sudah tidak bisa masuk.

Setelah sulit mendapatkan slot parkir, kami lalu kesulitan mendapatkan shaf untuk shalat karena jamaah yang membludak. Untungnya panitia menggelar terpal di jalanan untuk mengakomodir jamaah yang tidak kebagian di dalam masjid. Akhirnya kami pun sholat di jalanan. Kesan spontan saya saat itu, “Ini sholat tarawih apa sholat Idul Fitri?” Haha. Saya tidak tau membludaknya jamaah apakah disebabkan M Factor (Muzammil Factor) atau memang biasanya seperti itu jumlah jamaahnya. Yang pasti saya memutuskan untuk tidak i’tikaf di situ karena overcrowd

Masjid Al-Lathif, sebagaimana sudah saya jelaskan di atas, adalah markas gerakan Pemuda Hijrah. Maka tidak heran kalau segmentasi utamanya juga adalah anak muda. Saya perhatikan sebagian besar jamaahnya (mungkin mencapai 90%) memang anak muda. Tentu saya sangat senang dengan fenomena ini dan saya berharap fenomena ini menular ke kota-kota lain, termasuk Tangsel. Aamiin…

#Home Sweet Home, Tangsel

0 comentários: