Home Top Ad

Responsive Ads Here

Betapa sibuknya menjadi manusia modern. Segala yang terjadi di dunia selalu ingin diketahui. Berbagai berita dari Timur ke Barat dikonsumsi....

Manusia Modern dan Banjir Informasi

Betapa sibuknya menjadi manusia modern. Segala yang terjadi di dunia selalu ingin diketahui. Berbagai berita dari Timur ke Barat dikonsumsi. Seolah-olah hal itu menjadi suatu kewajiban. Perkara itu berhubungan dengan pekerjaan atau tidak, itu urusan belakangan, yang penting tau dulu. Haram hukumnya ketinggalan informasi.

Betapa sibuknya menjadi manusia modern. Ikan mati di laut seberang pun harus dikomentari. Mobil nabrak tiang listrik pun begitu serius jadi diskusi. Seolah-olah dunia akan bertambah gawat kalau yang demikian itu tidak dibahas. Sedangkan apa yang menjadi inti pekerjaan dan tugas mereka, cukup disinggung tipis-tipis saja. 

Tetapi bukan berarti manusia modern kering spiritualitas. Sibuk memikirkan dunia dan melupakan akhirat. Tidak! Mereka juga rajin mengaji dan memupuk keshalihan. Yah minimal shalih di dunia digital. Lihat saja channel yang mereka ikuti, dari ustadz salafi sampai ustadz HTI. Dari kajian bertema tafsir Al-Qur’an sampai perang pemikiran, semua dipelototi. Akan tetapi, jangan kau tanya kepada mereka apa materi kajian itu setelah 10 menit berlalu, karena lupa akan membuatnya malu.

***

Banjir informasi (overwhelming information) yang melanda jagat saat ini tampaknya tidak dianggap sebagai ancaman oleh sebagian besar penghuninya. Bagai bocah TK yang jingkrak kegirangan main ciprat air di tengah banjir, manusia modern juga tampak menikmati banjirnya. Mungkin karena peristiwa banjir ini adalah peristiwa yang baru, yang belum pernah ada sebelumnya. Atau mungkin sudah ada, tapi dengan format yang berbeda, misalnya dengan format surat kabar atau televisi. Adapun yang dialami manusia modern saat ini adalah banjir informasi dengan format media sosial (medsos).
Sumber : huffingtonpost.com

Medsos menawarkan manusia “entertainment” tiada henti (one stop entertainment). Saya sebut entertainment karena memang medsos itu biasanya digunakan sebagai hiburan di waktu sela (walaupun kenyataannya tidak cukup hanya menjadi penyela). Akan tetapi, entertainment yang ditawarkan dalam medsos tidak melulu hal yang sifatnya hedon seperti musik, film, atau game. Dia bisa juga berbentuk berita, pengetahuan, bahkan ceramah agama. Meski demikian, berbagai ilmu dan informasi yang didapatkan manusia modern melalui medsos menjadi sangat mudah tereduksi karena sifatnya yang “entertainment” tadi. Belum melekat satu ilmu di otaknya, dia sudah beralih ke ilmu lain yang lebih entertaining

Kecenderungan manusia modern untuk cepat beralih dari satu berita ke berita lain, atau dari satu video ke video lain, diakselerasi dengan pilihan judul dari pihak pengunggah (uploader) yang seringkali intimidatif – provokatif. Jangankan wong cilik, presiden pun bisa dibuat penasaran membaca judul dari suatu konten. Padahal bisa dipastikan judul-judul nyeleneh itu hanyalah strategi marketing pengunggah agar semakin banyak orang yang melihat konten yang dia unggah. 

Ini gawat. Kalau manusia modern tidak sadar akan ancaman banjir informasi ini, mereka akan kehilangan fokusnya. Manusia modern akan semakin sulit memilah dan memilih perkara yang layak menjadi kebutuhan. Hidup mereka terbawa arus konten-konten hiburan sampai limit kuota data memisahkan mereka, meski pada akhirnya perpisahan itu selalu bersifat sementara karena akan selalu diisi kuota yang baru.

*lagi transit 8 jam di Abu Dhabi :’(

0 comentários: