Home Top Ad

Responsive Ads Here

Tidak terasa sudah 10 tahun saya menjadi perantau. Hidup jauh dari keluarga dan orang-orang terkasih tentu banyak sekali tantangannya. Terle...

Bertualang Satu Dekade

Tidak terasa sudah 10 tahun saya menjadi perantau. Hidup jauh dari keluarga dan orang-orang terkasih tentu banyak sekali tantangannya. Terlebih saya lahir dan dibesarkan bukan di kultur keluarga perantau. Bahkan suku saya (Betawi) justru terkenal sebagai suku yang tidak suka berpindah-pindah sehingga kata “Betawi” itu sendiri sering dianekdotkan sebagai kepanjangan dari Betah Wilayah. 

Sebagai seorang yang tidak memiliki darah perantau, menjejakkan langkah pertama keluar dari kampung halaman tentu luar biasa beratnya. Saya ingat ketika dulu pertama kali memutuskan kuliah di Jogja, ada keraguan dari orangtua untuk melepas saya. Saya yang saat itu berusaha meyakinkan orangtua sebenarnya diguncang rasa ragu juga. Berbagai pertanyaan bernuansa pesimisme berseliweran di kepala untuk menguji tekad ini. Apakah saya akan bertahan hidup jauh dari keluarga? Apakah saya akan klop hidup di lingkungan yang sama sekali asing buat saya? Apakah sudah benar keputusan saya?

Berbekal keinginan untuk mencari sesuatu yang lebih baik, akhirnya saya langkahkan juga kaki ini menuju Kota Pelajar. Dan kini tidak terasa sudah satu dekade saya meninggalkan kampung halaman. Bahkan dalam kurun waktu itu entah sudah berapa kali saya berpindah tempat sebagai sebuah konsekuensi seorang akademisi. Hijrah dari satu kota ke kota lain. Dari satu pulau ke pulau lain. Dari satu negara ke negara lain. Bahkan dari satu benua ke benua lain. Alhamdulillah semua bisa dijalani dan dilalui dengan dramanya masing-masing.
Petualangan di Brussel, Belgia

Hidup menjadi perantau memiliki banyak sekali faidah. Satu faidah yang kuat sekali saya rasakan adalah kita menjadi lebih tahan banting. Bagaimana tidak tahan banting kalau hampir semua masalah ditelan sendirian? Kehabisan uang, masalah di kampus, konflik dengan teman dan dosen/atasan hingga rindu keluarga dan kampung halaman menjadi suplemen tersendiri bagi para perantau untuk membentuk mental mereka. Khusus buat rindu keluarga dan kampung, rasanya tidak ada obat yang paling mujarab kecuali mudik.

Keluar Zona Nyaman?
Banyak orang menjadikan perantauan sebagai tantangan untuk keluar dari zona nyaman. Saya pun tidak menampik bahwa ada semangat itu di awal petualangan saya merantau. Tetapi semakin kesini saya semakin menyadari bahwa pandangan tersebut rasanya kurang tepat. Akan lebih tepat dan positif jika  merantau dimaksudkan sebagai sarana perluasan zona nyaman, bukan untuk keluar dari zona nyaman. 

Apa bedanya? Sebenarnya intinya sama saja, bedanya hanya dalam hal perspektif. Orang yang merantau untuk memperluas zona nyamannya, akan memiliki mindset yang baik tentang kota tujuan perantauan. Dia sudah men-setting pikiran mereka bahwa kota tujuan itu akan menjadi zona nyaman kedua setelah kampung halamannya. Adapun mereka yang hijrah karena ingin keluar dari zona nyaman biasanya belum apa-apa sudah terbayang susahnya. 

Jadi, jika anda ingin merantau, tanamkanlah dalam pikiran anda bahwa perjalanan ini anda lakukan demi memperluas zona nyaman, bukan untuk meninggalkannya. Semoga dengan begitu anda lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan. 

#Ditulis dalam perjalanan Riyadh – Mekkah, diselesaikan di Jeddah

0 comentários: